1. Perusahaan memutuskan untuk memperluas pada pekerjaan mereka dengan menciptakan dan menyiapkan mereka sendiri butik on line, tetapi cukup cepat Namun, masalah terletak pada evaluasi dari retour investasi, analisis dari kinerja dari situs web dan evaluasi hasil. Dalam dapat melakukan hal ini, contoh-contoh mengenai kinerja dibentuk dengan membuat web indikator untuk mengikuti untuk mencapai tujuan strategis sesuai kualifikasi. Tetapi jenis model yang sering telah dicampur bersama-sama; tertentu berbeda-beda vektor komunikasi dan lain-lain hanya memiliki indikator Web Analytics. Berasal dari protokol, kami menghasilkan analisis kualitatif dari berbagai model untuk membangun model teori global. Gagasan yang menetapkan tujuan yang jelas dengan strategi yang akan dijangkau. Dapat dibedakan oleh dua jenis tujuan (Bathelot, 2006) yaitu tujuan internal untuk mengukur kredibilitas situs web itu sendiri serta tindakan promosi dibawa dan tujuan Eksternal yaitu memberikan data ke khalayak potensial atau mitra perusahaan untuk penjualan lagi. Tujuan dari gagasan ini dan pilihan indikator untuk mengukur terutama dari langkah umum menganalisis kinerja diakui oleh para pakar dalam domain ini. Ini merupakan hal yang disarankan untuk Langkah-demi-langkah panduan oleh komunitas web-portal Web analytique. Com (Naeem, 2006), dari SSII SQLI (Tessier, 2007) dan badan Weborama (Labus & Rodrigues, 2006).
Namun sebelum menemukan kesulitan yang menjadi tujuan menempatkan perspektif dan indikator yang dapat bervariasi dalam fungsi tipologi dari situs web tertentu matrixes bantuan dari piloting telah dimasukkan ke dalam ke tempat. Karena keragaman isi matrixes dibuat oleh para ahli, kami mampu menghasilkan sebuah analisis Meta direncanakan untuk mendirikan sebuah model kaya referensi. Internet telah menjadi kebutuhan sebagian manusia di dunia. Apalagi dengan hadirnya e-commerce sebagai salah satu bentuk perdagangan yang relatif baru. Masyarakat semakin termudahkan dan terbantu karena e-commerce menawarkan fleksibilitas yang lebih besar, pencapaian pasar yang lebih luas, struktur biaya yang lebih murah, transaksi yang lebih cepat, lini produk yang lebih luas, dan kenyamanan serta kustomisasi yang lebih luas pula. Namun, karena kemudahannya itulah, maka konsumen pun semakin mudah untuk membandingkan penawaran yang ada dari para penjual di seluruh dunia. Akibatnya, terjadi persaingan harga yang ketat dan memudahkan.
E-Commerce adalah aktifitas yang berhubungan langsung dengan perdagangan barang, jasa dan aktivitas bisnis lain yang berkaitan, melalui media elektronik. E-Commerce merupakan extension dari commerce dengan mengeksploitasi media elektronik. Meskipun penggunaan media elektronik ini belum dimengerti, akan tetapi desakan bisnis menyebabkan para pelaku bisnis mau tidak mau harus menggunakan media elektronik ini.
Kepercayaan, yang didefinisikan sebagai kesediaan seseorang untuk menjadi terbuka dan menjadi mudah ‘diserang’ oleh pihak yang berhubungan, meningkatkan kecenderungan bahwa ia bersedia untuk terlibat dalam perilaku mempercayai. Dalam e-commerce, yang menentukan kepercayaan konsumen ini tidak hanya faktor dari dalam diri konsumen seperti disposisi terhadap kepercayaan itu sendiri, atau faktor dari perusahaan seperti reputasinya. Tapi juga faktor teknologi, seperti kualitas dari websitenya, kepastian secara structural, dan kenormalan situasional situs. Dengan menumbuhkan kepercayaan konsumen, maka para e-vendor pun dapat menggaet loyalitas konsumen terhadap merk mereka.
Menurut Srini S.Srinivasan, Rolph Anderson, dan Kishore Ponnavolu dalam jurnalnya Customer loyalty in e-commerce: an exploration of its antecedents and consequences, e-loyalty adalah sikap menyukai dari konsumen terhadap e-retailer yang mengakibatkan perlaku pembelian berulang. Dari penelitian tersebut, didapat bahwa faktor kustomisasi, interaktivitas kontak, pengelolaan, kepedulian, komunitas, pilihan, dan karakter dalam suatu website e-commerce, berhubungan positif dengan e-loyalty. Adapun e-loyalty berhubungan negative dengan pencarian alternative oleh konsumen, dan berhubungan positif dengan word of mouth yang positif dan kesediaan untuk membayar lebih.
Secara umum E-commerce dapat diartikan sebagai segala bentuk transaksi perdagangan/perniagaan barang atau jasa (trade of goods and service) dengan menggunakan media elektronik. Jelas, selain dari yang telah disebutkan di atas, bahwa kegiatan perniagaan tersebut merupakan bagian dari kegiatan bisnis. E-Commerce merupakan satu set dinamis teknologi , aplikasi dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan , konsumen dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang , pelayanan dan informasi yang dilakukan secara elektronik. Penggunaann sistem E-Commerce, sebenarnya dapat menguntungkan banyak pihak, baik pihak konsumen, maupun pihak produsen dan penjual (retailer). Bagi pihak konsumen, menggunakan E-Commerce dapat membuat waktu berbelanja menjadi singkat. Tidak ada lagi berlama-lama mengelilingi pusat pertokoan untuk mencari barang yang diinginkan. Selain itu, harga barang-barang yang dijual melalui E-Commerce biasanya lebih murah dibandingkan dengan harga di toko, karena jalur distribusi dari produsen barang ke pihak penjual lebih singkat dibandingkan dengan toko konvensional.
Online shopping menyediakan banyak kemudahan dan kelebihan jika dibandingkan dengan cara belanja yang konvensional. Selain bisa menjadi lebih cepat, di internet telah tersedia hampir semua macam barang yang biasanya dijual secara lengkap. Selain itu, biasanya informasi tentang barang jualan tersedia secara lengkap, sehingga walaupun kita tidak membeli secara on-line, kita bisa mendapatkan banyak informasi penting yang diperlukan untuk memilih suatu produk yang akan dibeli.
Daftar Pustaka
Gefen, David (2002), Customer Loyalty in E-Commerce, Journal of the Association for Information Systems Volume 3d 2002, p. 2 P51
Srini S.Srinivasan ,Rolph Anderson ,Kishore Ponnavolu (2002), Customer loyalty in e- commerce: an exploration of its antecedents and consequences, Journal of Retailing 78 2002, p41–50
Stephen S.Standifird (2001), Reputation and e-commerce: eBay auctions and the asymmetrical impact of positive and negative ratings ,Journal of Management 27 (2001), p279-295
2. Solusi Pengelolaan Jurnal Ilmiah
Abstrak
Untuk mengatasi faktor ekonomi yang seringkali menjadi penghambat publikasi ilmiah,
diperlukan solusi yang tak hanya murah namun tetap menjaga kualitas dari input hingga output.
Open Journal Systems atau OJS dari Simon Fraser University menawarkan solusi lengkap seluruh
fase publikasi ilmiah dari call for paper hingga publikasi on line. Tulisan ini akan memberikan
panduan instalasi dan pengantar singkat alur kerja OJS.
Pendahuluan
Jika bahasa tertulis adalah penanda peradaban sebuah bangsa. Maka publikasi ilmiah adalah tanda
kemajuan olah pikirnya. Namun, rasio publikasi ilmiah per akademisi Indonesia yang masih
sangat rendah, tak serta-merta menandakan rendahnya output olah pikir bangsa ini. Tentu patut
kita sayangkan ketika faktor ekonomislah yang membuat ciut nyali para pengelola publikasi
ilmiah yang berakibat lambannya perkembangan dunia akademis Indonesia. Kini universitas,
pusat studi, atau lembaga riset yang ingin menerbitkan publikasi ilmiah dengan efisien bisa
menggunakan Open Journal Systems sebagai salah satu alternatif terbaik.
Open Journal Systems atau OJS adalah sebuah sistem manajeman konten berbasis web yang
khusus dibuat untuk menangani keseluruhan proses manajemen publikasi ilmiah dari proses call
for paper, peer review, hingga penerbitan dalam bentuk on-line. OJS dikeluarkan oleh Public
Knowledge Project dari Simon Fraser University dan berlisensi GNU General Public License.
OJS memudahkan peran pengelola jurnal, editor, reviewer, penulis, dan pembaca.
Lisensi Dokumen:
OJS seperti dimaksudkan oleh konseptornya adalah mentransformasi model pengelolaan jurnal
dari tradisional menjadi model jurnal online. Berikut gambaran terobosan yang coba ditawarkan
OJS.
Model Jurnal Tradisional
Langganan
Individu,
mahasiswa,
keanggotaan,
institusi,
langganan.
Sukarelawan
Editor, penulis, reviewer,
copyeditors,
editor
layout, proofreader
Sponsorship
Institusi, grant, donasi,
Iklan
Iklan, pertukaran iklan
jurnal, iklan industri
Page Charges
Dibayar oleh penulis
atau lembaga
`
Model Jurnal Online
Manajemen
Online
Jurnal bisa dikelola dan
dipublikasi
online
dengan perangkat lunak
berbasis open soure lebih
ekonomis dan berkualitas
untuk
komunikasi
akademik
Publikasi
Online
Akses
terbuka
Inovasi-inovasi yang ditawarkan dalam OJS menjanjikan keunggulan sebagai berikut:
Akses terbuka
Publikasi online
Manajemen online
Model ekonomi tradisional
Akses meningkat
Kualitas terangkat
Lebih ekonomis
Hingga Maret 2008 OJS telah digunakan 1400 jurnal dalam sepuluh bahasa, hampir dua kali lipat
disbanding November 2006 oleh 875 jurnal di seluruh dunia. Dan pada saat penulisan dokumen
ini telah mencapai versi 2.2. Berikut, beberapa nama yang telah memanfaatkan OJS.
ACS Digital Library
AI Magazine
Asia Journal of Global Studies
Columbia Science Review
e-journal Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah
IEEE Multidisciplinary Engineering Education Magazine
International Journal of Education and Development using ICT
OJS ditulis dengan PHP, menggunakan basis data MySQL atau PostgreSQL dan bisa ditempatkan
pada server berbasis *NIX maupun Windows. OJS mengundang relawan dari seluruh dunia untuk
berkontribusi dalam pengembangan, dokumentasi, penerjemahan dan lain sebagainya.
3.APLIKASI WEB UNTUK MEMBANTU PENGELOLAAN JURNAL
ABSTRACT
Job discription of a journal’s administrator more than only make a publication a paper or
saintific magazine. But administration, service and manage organisation of journal needed hard works
to be a profesional journal.
This research discussed about the modelling and designing of software based on web system
to manage journal organization. Case study of journal Technology named Academia ISTA was taken
as sample of how to manage Journal organization.
This research will give contribution esspecially for journal’s administrator how to manage
organisation based on Information Technology to get easy to manage and publication.
Keywords: Manage, Journal, web-system
Intisari
Tugas pengelola jurnal tidak hanya masalah teknis penerbitan, tetapi juga meliputi
administratitif yang cukup kompleks. Apalagi ditambah dealine penerbitan suatu karya, terkadang sisi
lain menjadi terabaikan. Sebagai contoh sisi service/pelayanan dan pengelolaan sebelum jurnal
tersebut terbit.
Dalam penelitian ini dibuat model rekayasa perangkat lunak untuk pengelolaan jurnal berbasis
web, studi kasus di Jurnal Teknologi Academia ISTA dimaksudkan sebagai contoh pengelolaan.
Penelitian ini akan memberikan manfaat terutama kepada pengelola jurnal ilmiah untuk bisa
memanfaatkan kemajuan IT yang akan membawa kemudahan dalam pengelolaan jurnal, selain
kemudahan publikasi bagi pengirim naskah.
PENDAHULUAN
Jurnal apapun selama ini identik dengan
penerbitan suatu karya. Dalam pengelolaan
jurnal
terkadang
mengalami hambatan-
hambatan
terutama
berkaitan
dengan
komunikasi antara pengelola jurnal dengan
penulis
mengenai naskah yang
telah
dikirimkan ataupun kondisi naskah tersebut
apakah telah disetujui untuk diterbitkan atau
tidak, kemudian penulis ingin mengirimkan
naskah tidak melalui media pos tetapi lewat
internet dan sebagainya. Berangkat dari
persoalan-persoalan
tersebut
maka
pengelolaan jurnal berbasis web menjadi
kebutuhan yang cukup urgen, mengingat
domisili penulis memang beragam tidak hanya
luar kota dari institusi pengelola jurnal tetapi
juga bisa luar pulau atau lintas negara.
Mengelola suatu jurnal tidak hanya
masalah teknis penerbitan, tetapi juga meliputi
administratitif yang cukup kompleks. Apalagi
ditambah deadline penerbitan suatu karya,
terkadang sisi lain menjadi terabaikan.
Sebagai
contoh sisi
service/pelayanan,
mungkin membalas email bukan merupakan
prioritas utama yang mendukung terbitnya
suatu jurnal. Tetapi jika hal itu tidak dilakukan
maka kredibilitas pengelolaan jurnal menjadi
turun. Beberapa hal lain yang dipandang
menjadi permasalahan yang timbul dalam
pengelolaan jurnal antara lain seperti:
1. Manajemen Jurnal Ilmiah : Bagaimana
pengelolaan jurnal menjadi mudah,
baik dari sisi pengelola maupun dari
sisi konsumen ( penulis/pengirim
naskah maupun pemakai/pencari
informasi jurnal).
2. Manajemen Naskah dan Organisasi
Penerbitan
:
Bagaimana
mengorganisir data, seperti penulis,
judul, urutan naskah, reviewer,
Pengelolaan
Alur
Naskah
dan
sebagainya menjadi terintegrasi.
3. Manajemen Pelanggan/Pemasaran :
Bagaimana
pencari
informasi
mendapatkan
kemudahan
dalam
mengakses jurnal, seperti apa isi
jurnal, kapan tulisannya dimuat,
bagaimana
cara
menulis/mengisi
jurnal dan sebagainya.
4. Manajemen
Iklan,
Grafis
dan
Percetakan : Bagaimana membuat
media promosi yang efektif bagi suatu
jurnal.
5. Manajemen Keuangan, sumber dana
dan pengelolaannya
Dari beberapa rumusan diatas menunjukkan
bahwa media pengelolaan berbasis web
menjadi suatu kebutuhan untuk pengelolaan
suatu jurnal.
Ide penelitian ini adalah memodelkan
suatu rekayasa perangkat lunak pengelolaan
jurnal berbasis web, untuk mengelola jurnal,
studi kasus di Jurnal Teknologi Academia
ISTA yang dimaksudkan sebagai bukti contoh
pengelolaan.
Penelitian ini akan
memberikan
manfaat terutama kepada pengelola jurnal
ilmiah untuk bisa memanfaatkan kemajuan IT
yang akan membawa
kemudahan dalam
pengelolaan jurnal. Bagi pengembang sistem
dalam membangun rekayasa perangkat lunak
yang akan dibuat khusus untuk pengelolaan
jurnal, akan mempunyai konsep yang jelas,
meskipun mengelola jurnal yang paling
spesifik sekalipun.
Bagi pencari informasi, kemudahan akses
yang
ditawarkan
akan
meningkatkan
pelayanan yang pada akhirnya memperoleh
manfaat yang cukup signifikan dengan disiplin
ilmunya.
TINJAUAN PUSTAKA
Karya ilmiah yang diterbitkan pada jurnal
ilmiah akan membantu penyebaran informasi
ilmiah
kepada
pihak-pihak
yang
membutuhkan. Dengan penyebaran informasi
ilmiah
tersebutlah
ilmu
pengetahuan
berkembang. Disamping itu dengan publikasi
ilmiah,
eksistensi
keahlian
seseorang
mendapatkan legitimasi dalam tata cara
pergaulan masyarakat ilmiah. Semakin banyak
publikasi seseorang pada suatu bidang akan
menghasilkan pengakuan tentang keahliannya
dalam bidang tersebut (Mustofa,2006).
Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu
jurnal ilmiah secara nasional dan berkelanjutan
telah dilakukan oleh Direktorat Pembinaan
Penelitian
dan
Pengabdian
kepada
Masyarakat (DP3M) Ditjen Dikti, Depdiknas.
Kegiatan tersebut dimulai dari pengkajian yang
dilakukan pada tahun 1992 yang ditindaklanjuti
dengan akreditasi jurnal pada tahun 1995.
Kegiatan penataran dan lokakarya penulisan
artikel ilmiah baik di tingkat pusat maupun
daerah, dan seminar dan lokakarya
manajemen jurnal ilmiah.( Artikel Semiloka,
DP3M Ditjen Dikti,2003)
Pengelolaan jurnal ilmiah, harus
mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan
Depdiknas
c/q
Direktorat
Pembinaan
Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat,
Direktorat Jendral Pendidikan tinggi, agar
dapat memenuhi standar terakreditasi seperti:
(1) nama jurnal berkala; (2) kelembagaan
penerbit; (3) penyunting; (4) kemantapan
penampilan; (5) gaya penulisan; (6) substansi;
(7) keberkalaan; dan (8) tiras atau omset
minimum. Sementara butir yang tidak boleh
ada adalah foto penulis artikel, beritas-berita
(berita
organisasi
ataupun
peristiwa
keilmuan),( Artikel Lepas MSI UII, 2006)
Dari beberapa butir referensi diatas, mulai dari
pentingnya penyebaran informasi suatu karya
ilmiah sampai pada peningkatan mutu
pengelolaan
jurnal ilmiah menunjukkan
pengelolaan jurnal ilmiah secara online
(berbasis web)
akan sangat membantu
pengelolaan suatu jurnal dalam legitimasi
suatu karya ilmiah.
Penelitian mengenai pengelolaan
suatu jurnal selama ini sangat jarang bahkan
bisa dikatakan belum ada, referensi mengenai
masalah pengelolaan jurnal menjadi kendala
tersendiri dalam penelitian ini. Namun
demikian beberapa jurnal berbasis web sudah
ada beberapa seperti gambar 1, 2 dan 3
berikut :
Jurnal tersebut di kelola oleh Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia dengan orientasi
publikasi
karya
ilmiah
secara
gratis
(paperless), cukup lengkap meskipun dari sisi
pengelolaan jurnal tidak diperlihatkan secara
detail.
Gambar 2. Salah satu pengelolaan Jurnal di ITB
Gambar 3. Pengelolaan Jurnal di UII
Hasil penelitian menjadi lebih bermanfaat jika
disebarluaskan, dan jurnal ilmiah merupakan
media
yang
sangat
berperan
untuk
menginformasikan suatu
hasil penelitian
tersebut.
Meskipun
demikian
laporan
penelitian tidak dapat diterbitkan begitu saja,
tapi diperluas melalui proses penyuntingan
disesuaikan dengan standar yang digunakan
pengelola jurnal dengan seizin penelitinya.
Setidak-tidaknya sistematika yang ada minimal
terdiri dari (a) judul; (b) nama pegarang; (c)
abstrak 50-100 kata; (d) kata-kata kunci (key
words); (e) pendahuluan; (f) metode penelitian;
(g) hasil; (h) pembahasan; (i) kesimpulan; dan
(j) daftar pustaka. Kebijakan Redaksional
Keberadaan Jurnal Ilmiah dalam suatu
lingkungan Perguruan Tinggi merupakan
sebuah upaya untuk membangun citra dan
komitmen keilmuan lembaga tersebut dalam
usaha mensosialisasikan gagasan-gagasan
yang brilian, agar suatu ilmu
dapat
berkembang
sesuai
kebutuhan
dan
perkembangan zaman. Dalam hal ini, Jurnal
Ilmiah bukanlah sekedar sarana latihan bagi
SDM yang ada dalam suatu Perguruan Tinggi,
tapi lebih merupakan sarana pengembangan
dan aktualisasi diri dalam suatu komitmen
keilmuan yang telah menjadi bagian hidupnya.
Acuan ini setidaknya dapat memberikan suatu
gambaran yang sangat jelas, bahwa
profesionalisme dan keseriusan juga harus
dimiliki
oleh
pengelola
suatu
jurnal.
Kehadirannya dalam jajaran pengelola suatu
jurnal bukanlah sekedar numpang nama, tetapi
harus menunjukkan komitmen yang jelas
sehingga terbangun suatu team work yang
solid, yang dapat mengantarkan jurnal yang
dikelolanya sebagai suatu institutional image
lembaga yang menerbitkannya. ( Artikel Lepas
MSI UII, 2006)
Jenis jurnal ilmiah di perguruan tinggi dibagi
menjadi beberapa jenis (Saukah,2006):
1. Jurnal ilmiah lokal: Artikelnya memuat
karya ilmiah berupa artikel hasil
penelitian dan artikel konseptual,
penulisnya merupakan para dosen dari kalangan unit sendiri, pengelola
dan penyuntingnya berasal dari para
dosen kalangan unit kerja tersebut,
distribusi jurnalnya lebih banyak
terbatas pada kalangan sendiri.
2. Jurnal
ilmiah
nasional
tidak
terakreditasi:
keterlibatan
pakar
nasional
berasal
dari
luar
lingkungannya sebagai penyunting
ahli, banyaknya penulis artikel berasal
dari luar lingkungan sendiri, distribusi
jurnal secara nasional (menjangkau
seluruh nusantara), tampilan jurnal
dan isinya belum memenuhi kriteria
untuk terakreditasi.
3. Jurnal ilmiah nasional terakreditasi:
keterlibatan pakar nasional berasal
dari luar lingkungannya sebagai
penyunting ahli, banyaknya penulis
artikel berasal dari luar lingkungan
sendiri, distribusi jurnal secara
nasional
(menjangkau
seluruh
nusantara), tampilan jurnal dan isinya
sudah memenuhi
kriteria untuk
terakreditasi.
4. Jurnal
ilmiah
internasional
:
keterlibatan
pakar
internasional
sebagai mitra bestari, adanya penulis
artikel memiliki reputasi internasional
(terutama dari luar negeri) dalam
bidangnya,
distribusi
jurnal
menjangkau ke beberapa negara
didunia, seyogyanya menggunakan
salah satu bahasa internasional.
Makna dan ciri jurnal ( Sastiono,2006):
1. Mengandung informasi baru
2. Mudah ditelusur dengan cara-cara
normal
3. Biasanya bergantung pada pakar yang
membantu penerbit apakah suatu
artikel dapat dimuat
4. Adanya ‘standar’ penulisan
Secara umum struktur Fungsional Jurnal
ilmiah dalam melaksanakan manajemen
naskah/artikel ( Setijanto,2006):
1. Ketua Penyunting
2. Staf ahli
3. Penanggung jawab
4. Penyunting ahli (Mitra Bestari)
5. Penyunting Pelaksana
6. Pelaksana tata usaha
HASIL & PEMBAHASAN
Secara umum belum ada standart
tertentu yang digunakan dalam pengelolaan
jurnal berbasis web. Beberapa referensi lebih
banyak diacu untuk pengelolaan jurnal
konvensional. Beberapa referensi Jurnal yang
telah berbasis web pun lebih banyak ke arah
publikasi dan belum
menyentuh sisi
pengelolaan jurnal itu sendiri.
Model Pengelolaan jurnal Academia
ISTA
telah memenuhi kaidah-kaidah
pengelolaan Jurnal yang telah ditetapkan.
Pembuatan Jurnal berbasis web
akan
melengkapi pengelolaan jurnal konvensional
tersebut
4. STRATEGI MERANCANG SLOGAN, LOGO,
SIMBOL DAN FORMAT DALAM
EKSEKUSI PESAN IKLAN OUTDOOR
8.1. Merancang Slogan
Slogan atau themeline atau tagline yang tertuang dalam pesan
iklan outdoor merupakan awal dari kesuksesan periklanan. Slogan
teridiri dari satu atau beberapa kata. Kata terdiri dari kumpulan
huruf. Huruf yang dipilih untuk merancang iklan outdoor harus
mudah dibaca dari dari jarak tertentu. Spasi di antara huruf, kata
dan garis yang memadahi akan menyempurnakan jarak
penglihatan. Ukuran relatif tabal dan tipisnya huruf merupakan
pertimbangan penting. Terlalu banyak huruf yang dipadatkan
(dikompres) akan mengurangi kejelasan sebuah pesan iklan.
Variasi huruf yang ekstrem atau huruf yang terlalu tipis atau terlalu
tabal akan mengurangi kemudahan untuk dibaca. Huruf-huruf tipe
Ornate atau Sans serif mengurangi efektivitas sebuah rancangan
iklan outdoor. Iklan “Series Campaign” dari Paramount Park
Scarowinds, kreasi dari Boone Oakley Advertising menggunakan
huruf-huruf yang mudah dibaca. Iklan yang berjudul “Warm Toilet
Slogan menjadi pernyataan standard yang mudah diterima di
benak konsumen. Slogan mempunyai dua fungsi utama, yaitu untuk
menjaga keberlangsungan serangkaian iklan dalam kampanye dan
untuk menyederhanakan sebuah strategi pesan periklanan pada
pernyataan positioning agar menjadi ringkas, dapat diulang,
menarik perhatian dan mudah diingat. Kita biasa mendengar
kiasan “Gambar merupakan seribu kata”, sebaliknya dalam
merancang slogan berlaku : Kata (Slogan) merupakan seribu
gambar.
Misalnya,
“For Life” merupakan slogan dari Volvo,
ditunjukkan pada Gambar 8.5. “The soap you can believe in”
merupakan slogan dari sabun Daz, gambar 8.6. “I’m lovin’it”,
slogan dari McDonald’s, ditunjukkan pada Gambar 8.7. “Relax It’s
FedEx” merupakan slogan dari Federal Express dapat dilihat pada
Gambar 8.8. “Take a closer look” adalah slogan dari The
Economist, ditunjukkan pada gambar 8.9. “Innovation delivered”,
slogan dari Accenture, ditunjukkan pada Gambar 8.10.
8.2. Merancang Logo
Logo
merupakan
suatu
identitas
merek
yang
mengkomunikasikan secara luas tentang produk, pelayanan dan
organisasi dengan cepat. Logo tidak sekedar suatu label, tetapi
menampilkan pesan kualitas dan semangat produk, salah satunya
lewat pemasaran, periklanan dan kinerja produk. Ketika Anda
mendesain logo, maka Anda harus mengidentifikasi produk atau
bisnis klien Anda dan membuat logo berbeda dengan pesaingnya.
Logo harus bersifat unik, mudah diingat dan mudah dikenali
dengan cepat.
Beberapa petunjuk untuk mendesain logo antara lain :
• jelas dan dapat dibaca
• khusus untuk klien Anda
• membedakan produk, pelayanan dan organisasi dari pesaing
• sesuai dengan bisnis klien Anda
• mengekspresikan semangat, kualitas, kepribadian produk,
pelayanan dan organisasi klien Anda
• konsisten dengan prinsip keseimbangan dan kesatuan
• menciptakan hubungan yang positif
• mudah diingat
• dapat bekerja pada reproduksi hitam dan putih serta berwarna.
• mudah dikecilkan dan dibesarkan.
• mempunyai dampak visual yang efektif.
Agar logo mempunyai dampak visual yang efektif harus
berhubungan dengan karakteristik dasar desain, yaitu bentuk,
tampilan, bobot dan kontras yang baik.
Logo Nike termasuk logo yang bentuknya bagus, meskipun kecil
tetapi dapat dikenali. Pada Gambar 8.11. ditunjukkan dari iklan
Nike, kreasi dari Taxi dengan logo Nike khas yang disebut
“swoosh”. Nike terkenal dengan sepatunya sebagai simbol dari
“identitas merk dan menanamkan gagasan kecepatan” yang
merupakan kunci dari kinerja. Demikian pulan logo dari Apple
termasuk mempunyai bentuk yang baik. Dari jarak yang cukup
jauhpun masik dapat dikenali, ditunjukkan pada Gambar 8.12.
Coca-Cola menggunakan logo yang mempunyai penampilan yang
baik, yaitu logo khas berupa tulisan Coca-Cola, ditunjukkan pada
Gambar 8.13 dan Gambar 8.14. Logo yang jelas dan mudah
dibaca, khusus, membidik remaja global, mudah diingat,
menggunakan grafis yang baik, konsisten dengan prinsip
keseimbangan dan kesatuan, menciptakan hubungan yang positif,
dapat dibesarkan dan dapat dikecilkan.
8.3. Merancang Simbol
Dalam merancang outdoor, suatu obyek merupakan tanda jika
obyek atau yang dilambangkannya berasal dari konteks budaya
yang sama. Iklan outdoor berupa poster Polo dari Ralph Lauren
yang terkenal melambangkan status yang tinggi, kemampuan
finansial dan bahkan keluarga kerajaan, karena olah raga tersebut
diasosiasikan dengan keluarga kerajaan Inggris. Logo Polo tersebut
ditunjukkan pada gambar 8.19. Sedangkan suatu obyek merupakan
simbol dari obyek lainnya jika obyek dan lambangkannya tidak
mempunyai hubungan intrinsik sebelumnya, tetapi dihubungkan
secara kiasan atau sesuka kita.
Beberapa petunjuk untuk merancang simbol adalah untuk :
• menciptakan visual sederhana
• menampilkan informasi atau mengekspresikan makna
• menciptakan sebuah tanda yang berbeda
• menciptakan desain yang dapat dikenali dengan cepat
• mendesain sebuah simbol yang sesuai dengan ide atau sesuatu
yang disajikan
• mendesain simbol yang dapat bekerja secara baik pada
reproduksi hitam dan putih
• mendesain simbol yang dapat bekerja pada berbagai ukuran.
Untuk menciptakan hubungan simbolis, perancang iklan
menggunakan bahasa kiasan atau nonliteral atau non harfiah.
Bahasa kiasan mengekspresikan sesuatu dengan hal yang biasanya
digunakan untuk melambangkan hal lain yang dianggap berkaitan.
Bahasa kiasan tersebut terdiri dari perumpamaan, metafora dan
alegori.
8.3.1. Perumpamaan
Perumpamaan atau simile merupakan majas perbandingan
menggunakan kata pembanding, misalnya serupa, seperti, umpama,
laksana, bagaikan atau sebagai item gabungan kelas yang berbeda.
dari pengalaman. Contohnya “cinta” serupa dengan bunga
“mawar”. “Kekuatan yang kencang” serupa dengan “kuda”. Iklan
outdoor dari Shell menggunakan perumpamaan dalam
mengeksekusi iklannya. Iklan buatan J. Walter Thomson London
yang berjudul “Shell V Power Racing” mendapat penghargaan
Bronze pada festival Euro Effie 2005, dapat dilihat pada Gambar
8.20.
Demikian pula iklan dari Tamiya Assembly Toys, yaitu
“bagian-bagian Tamiya bagaikan semangka pecah atau bagian-
bagian Tamiya bagaikan lampu jatuh berantakan atau bagian-
bagian Tamiya bagaikan katak jatuh berurai”. Iklan kreasi Creative
Juice Bankok yang berjudul “Water Melon”, “Light Bulb”, dan
“Frog” tersebut masing-masing mendapat penghargaan Gold pada
Asia Pacific Advertising Festival 2005. Iklan tersebut ditunjukkan
8.3.2. Metafora
Metafora adalah penggunaan kata yang mengandung makna
perbandingan dengan benda lain karena adanya persamaan sifat
antara kedua benda itu, misalnya tangan kursi, karena bagian kursi
itu menyerupai tangan, demikian juga leher botol, leher baju dan
sebagainya. Dalam periklanan metafora menggunakan sebuah kata
atau frase untuk menyatakan sebuah konsep atau obyek dengan
kiasan atau tidak secara harfiah atau tidak secara lateral dengan
tujuan untuk membuat ide yang abstrak menjadi lebih nyata.
Chevrolet merupakan “An American Revolution”. Iklannya
ditunjukkan pada Gambar 8.24. Iklan outdoor Il Vizio Extra Strong
Coffee menggunakan metafora, yaitu menggunakan “Wake Up
World” New York tersebut ditunjukkan pada Gambar 8.25,
Gambar 8.26, Gambar 8.27 dan Gambar 8.28.
Gambar 8.24.
8.3.3. Alegori
Alegori merupakan perluasan dari metafora. Alegori
menggunakan perbandingan yang utuh, misalnya hidup
diumpamakan dengan biduk atau bahtera yang terkatung-katung di
tengah lautan, kesukaran dengan badai dan topan, suami istri
dengan nahkoda dan jurumudi yang harus seia sekata
mengemudikan bahtera itu melalui topan dan badai menuju
kebahagiaan yang dibandingkan dengan tanah tepi yang kan
dicapai. Alegori merupakan persamaan obyek dalam bagian
narasi, yang mengadung arti diluar narasi itu sendiri.
Alegori menggunakan karakteristik lain, yaitu personifikasi.
Melalui personifikasi, kualitas abstrak dalam suatu narasi
menyerupai karakteristik manusia. Gambar 8.29. merupakan iklan
menunjukkan iklan model alegori dari Chevron. Kendaraan yang
menyerupai manusia sebagai personifikasi gaya hidup yang dituju
oleh produk. Di permukaan hanya merupakan strategi unik untuk
mengiklankan produk yang membosankan, yaitu bahan bakar.
Tetapi di bawah permukaan iklan tersebut berupaya membujuk
konsumen bahwa memilih bahan bakar Chevron adalah keputusan
yang tepat dapat menghindari deposit yang tidak dikehendaki.
5. PENGAURH IKLAN KOMERSIAL DI MEDIA TELEVISI
TERHADAP MASYARAKAT
Pendahuluan
Iklan begitu akrab dengan kehidupan kita. Mulai dari bangun tidur, beraktifitas di rumah,
keluar rumah, ditempat kerja, sampai kita pulang lagi ke rumah dan tidur, berapa banyak iklan yang
kita saksikan?! Lalu berapa banyak iklan yang dapat mempengaruhi kita sehingga kita tertarik
untuk membeli produk/ jasa yang ditawarkan. Iklan adalah senjata paling ampuh untuk
mempengaruhi konsumen. Yang sebelumnya tidak tertarik dengan sebuah produk, namun karena
iklan yang ditayangkan begitu gencarnya sehingga lama-kelamaan tertarik dan ingin mencobanya.
Kita tentu masih ingat ketika acara reality show AFI (Akademi fantasi Indosiar) sedang
berada di puncak rating. Acara tersebut disponsori oleh produk Indomie dari Indofood. Iklan
dibawakan oleh para akademia (peserta AFI) dengan berbagai varian model iklan baik secara
langsung maupun tidak langsung. Saya mendengar sendiri dari pemirsa yang asyik mengikuti setiap
episode bahwa dia tertarik untuk membeli dan mencoba Indomie karena penasaran dengan
gencarnya iklan yang ditayangkan tersebut.
Seperti dikatakan praktisi periklanan dari Inggris yang mendefenisikan periklanan adalah
pesan-pesan penjualan yang paling persuasif yang diarahkan kepada para calon pembeli yang paling
potensialatas produk barang atau jasa tertentu dengan biaya yang semurah-murahnya
2
. Kegiatan
periklanan memang bisa menelan biaya ratusan juta dan bahkan miliar rupiah, namun selama
didasarkan pada tujuan dan perhitungan yang serba jelas maka akan mendapatkan keuntungan yang
lebih besar.
Data Nielsen Media Research (NMR) tentang tren belanja iklan lima tahun terakhir
menunjukkan peningkatan secara signifikan tiap tahunnya. Perhitungan yang dilakukan tanpa
pertimbangan diskon dari berbagai media yang digunakan, baik media konvensional ataupun non
konvensional tercatat belanja iklan terus melonjak dari Rp 7,123 triliun (2000), Rp 9,084 triliun
(2001), Rp 12,368 triliun (2002), Rp 16,801 triliun (2003), Rp 22, 211 triliun (2004), Rp 25,580
triliun (2005) dan Januari-September 2006 baru mencapai Rp 21,489 triliun. Sementara data dari
Adquest Millenium dalam periode yang sama, tanpa menghitung iklan layanan masyarakat dan
media non komersial menunjukkan, perkembangan belanja iklan mengalami pertumbuhan yang
menurun (drecreasing trend) jika dilihat gross advertising expenditure sejak tahun 2000 hingga
2004 selalu naik di atas 25 persen, tetapi pertumbuhannya hanya 17 persen (lihat dalam tabel tren
belanja iklan red), sedangkan di tahun 2006 kemungkinan besar tidak ada pertumbuhan. Pergerakan
ini tentunya dipengaruhi faktor makro ekonomi yang kurang menguntungkan di akhir tahun 2005
seiring kenaikan harga bahan bakar minyak yang terus melonjak.
Masih dari data Nielsen Media Research, media televisi maraup iklan sebesar 70%, atau
senilai Rp 16,22 triliun. Pada semester I tahun 2006 ini, belanja iklan televisi sebesar Rp 9,2 triliun
atau 68% dari total belanja iklan secara nasional, atau sebesar Rp 13,6 triliun. Sungguh merupakan
angka yang fantastis besarnnya, yang menimbulkan semakin banyaknya bermunculan televisi-
televisi swasta nasional.
Iklan Televisi
Televisi sebagai media hiburan yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia dan bahkan
dunia, merupakan salah satu media yang efektif untuk beriklan. Hal ini dikarenakan iklan televisi
mempunyai karakteristik khusus yaitu kombinasigambar, suara dan gerak. Oleh karena itu pesan
yang disampaikan sangat menarik perhatian penonton.model iklan yang disajikan oleh televisi juga
sangat bervariasi. Ketika baru muncul televisi swasta, iklan hanya dalam bentuk klip—baik live
action, stop action maupun animasi dan still. Namun dalam perkembangannya iklan televisi
mengalami banyak sekali perkembangan. Model iklan yang sekarang ada antara lain adalah
superimposed, program sponsor, running text, backdrop, caption, credit title, ad lib, property
endorsment, promo ad
3
. Perkembangan iklan yang makin kreatif tersebut menjadikan makin
bervariasinya tayangan iklan dan bisa menjadi hiburan tersendiri. Bagaimana tidak, ada iklan yang
bisa membuat kita melebarkan senyum seperti iklan rokok Sampoerna Hijau denagn genk hijaunya-
dan masih banyak lagi iklan-ilan lain yang menghibur. Namun tidak dipungkiri banyak juga iklan-
iklan yang menyebalkan.
Keunggulan Iklan Televisi
Seperti telah disebutkan diatas bahwa iklan televisi mempunyai karakteristik khusus yaitu
kombinasigambar, suara dan gerak. Dengan karakteristik tersebut mempunyai berbagai keunggulan
dibanding media iklan lain. Diantaranya keunggulantersebut adalah:
1. Kesan realistik
Karena sifat yang visual dan merupakan kombinasi warna-warna, suara dan gerakan, maka
3 Rendra Widyatama, Pengantar Periklanan, (Jakarta: Buana Pustaka Indonesia 2005) hal. 91-102
Hal | 2
Page 3
iklan televisi tampak hidup dan nyata. Kelebihan ini tidak dimiliki oleh media lain. Dengan
kelebihan ini, para pengiklan dapat menunjukkan dan memamerkan kelebihan atau
keunggulan produknya secara detail. Jika produk yang diiklankan adalah makanan yang
diawetkan, maka pengiklan dapat menunjukkan kemasannya yang khas secara jelas sehingga
konsumen dengan mudah mengenalnya di toko-toko. Walaupun ingatan konsumen terhadap
apa yang telah diiklankan selalu timbul tenggelam, namun iklan visualmenancapkan kesan
yang lebih dalam, sehingga konsumen begitu melihat produknya akan segera teringat
iklannya di televisi. Pengaruh ini dapat diperkuat lagi jika pembuatan iklannya disukung
dengan teknologi grafis komputer.
2. Masyarakat lebih tanggap
Karena iklan televisi dinikmati dirumah-rumah dalamsuasana yang serba santai atau reaktif,
maka pemirsa lebih siap untuk memberikan perhatian
4
. Perhatian terhadap iklan televisi
semakin besar jika materinya dibuat dengan standar teknis yang tinggi, dan atau
meggunakan tokoh-tokoh ternama sebagai bintang iklan.
3. Repetisi/ pengulangan
Iklan televisi bisa ditayangkan beberapa kali dalam sehari sampai dipandang cukup
bermanfaat yang memungkinkan sejumlah masyarakat untuk menyaksikannya, dan dalam
frekuensi yang cukup sehingga pengaruh iklan itu muncul. Sekarang ini para pembuat iklan
televisi tidak lagi membuat iklan yang panjang-panjang, mereka justru membuat iklan
pendek dan menarik. Agar ketika ditayang ulang, pemirsa tidak cepat bosan. Iklan dengan
pendekatan emosi yang membikin penasaran pemirsa juga bisa digunakan sebagai teknik
untuk lebih diingat oleh pemirsa.
4. Ideal bagi pedagang eceran
Iklan televisi sangat membantu penjualan ditigkat pedagang eceran. Hal ini disebabkan
karena selain para pedagang eceran juga menonton televisi seperti orang lain, iklan televisi
tersebut seolah-olah dibuat untuk mereka. Pedagang memahami bahwa sesuatu yang
diiklankan di televisi, maka permintaan akan barang tersebut akan meningkat sehingga stok
barang akan cepat terjual. Agen atau sub agen suatu produk kadang-kadang sulit untuk
menjua atau menitipkan produk kepada pedagang eceran jika mereka tidak dapat memberi
jaminan bahwa produk tersebut diiklankan di televisi. Beriklan di televisi bahkan menjadi
keharusan jika produsen berhubungan dengan perusahaan supermarket yang mempunyai
ratusan cabang. Peredaran barang harus berlangsung dengan cepat dan tidak ada yang lebih
4 Hal ini berbeda dengan iklan poster yang dipasang dijalan-jalan; masyarakat yang sibuk memikirkan sesuatu,
menuju ke suatu tempat atau tengah bergegas ke kantor tentunya hanya memperhatikan sekilas iklan-iklan yang ada
dijalanan. Untuk mendapat perhatian lebih maka menggunakan teknik repetisi (pengulangan).
mampu mempercepat peredaran barang selain televisi.
5. Terkait dengan media iklan lain
Tayangan iklan televisi mungkin saja mudah terlupakan begitu saja. Tapi kelemahan ini bisa
diatasi dengan memadukannya denga media iklan lain. Jika konsumen memerlukan
informasi lebih lanjut atau perlu dijabarkan lebih detail, iklan televisi bisa dipadukan dengan
iklan di tabloid-tabloid minggua, khususnya tbloid yang mengulas acara-acara televisi. Iklan
pendukung juga bisa demuat di surat kabar harian. Iklan surat kabar adalah rujukan atas
iklan yang telah ditayangkan di televisi.
Iklan dan kapitalisme
Saat ini di pasar terdapat produk-produk sejenis dari berbagai perusahaan yang dihasilkan
secara massal. Hampir semua kategori produk dapat dijumpai lebih dari satu merek, mulai dari
makanan, minuman, bumbu dapur, kosmetik, kendaraan dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang
berbagai merek mengeluarkan barang yang relatif sama namun dengan kemasan yang berbeda
untuk membidik segmen pasar tertentu. Hal ini bisa kita jumpai misalnya pada iklan rokok
5
.
Dari produk yang diiklankan di televisi, kita menjumpai berbagai merek yang mengiklankan
jenis produk yang sama. Sebut saja produk sabun cuci dengan berbagai merek misalnya Rinso,
Attack, Total, Surf, Wing Biru, Krim Ekonomi, Soklin, B29, Ommo Biru dan berbagai merek
lainnya. Produk susu untuk balita ada merek Pedia Sure, Sustagen, Dancow, Bendera, SGM,
Lactamil Boneeto. Berbagai produk dengan berbagai maam merek tersebut berlomba memenangkan
pasar. Semua produk menghendaki dirinya menjadi market leader. Akibatnya muncul persaingan
yang sangat ketat dalam meraih hati konsumen. Mereka merekayasa produk sedemikian rupa
sehingga seolah terdapat sejumlah perbedaan antara produk yang sama dari berbagai merek,
sekalipun sebenarnya esensi fungsional semua produk tersebut adalah sama. Pengiklan memberikan
jasa dan manfaat tambahan pada produk, sehingga menjadi produk yang disempurnakan.
Penambahan atas produk inilah awal munculnya persaingan. Kiranya sejalan dengan apa yang
ditulis oleh Levit dalam Philip Kotler sebagai berikut:
“Jenis persaingan baru berlangsung buannya antar produk yang diproduksi
oleh perusahaan-perusahaan di pabrik, melainkan antar segala macam yang
mereka tambahkan pada hasil pabrik tersebut, seperti bentuk kemasan, jasa
pelayanan, periklanan, persyaratan kredit, jasa pengantaran, pergudangan
dan apa saja yang dihargai oleh konsumen” (Levit, dalam Kotler, 1996:91).
Rekayasa produk tersebut disampaikan melalui iklan, sehingga sebuah produk terlihat benar-
benar berbeda dengan produk pesaing. Lihat saja dengan apa yang dilakukan oleh pabrik pembuat
sabun cuci merek Surf, Attack, Total dan Rinso ukuran sachet. Surf mengatakan dirinya sebagai
sabun yang tidak sekedar membersihan cucian, namun mampu mencegah kotoran agar tidak
menempel kembali. Sabun cuci merek Attack mengatakan dirinya mampu mengangkat kotoran dari
pakaian sehingga membuat pakaian menjadi lebih bersih dan bersinar. Sementara sabun cuci merek
Total mengatakan produknya sebagai sabun yang selain ekstra bersih, juga menjadikan pakaian
harum dan wangi. Lain lagi dengan sabun cuci merek Rinso kemasan sachet, ia menambahkan
aspek kepraktisannya karena dikemas dalam ukuran sachet yang pas untuk sekali cuci, sehingga
tidak membingungkan dalam menetapkan ukuran seberapa banyak deterjen yang akan digunakan
untuk mencuci.
Contoh-contoh diatas merupakan konstruksi yang dilakukan oleh pabrikan untuk dicoba
dipaksakan kepada calon konsumen. Mereka menyampaikan melalui iklan diberbagai media agar
calon konsumen tergiring pada konstruksi bentukan iklan tersebut. Mereka memiliki kepentingan
yang sangat kuat atas skenario ini, karena dengan ditundukkannya khalayak komunikan atas
konstruksi bentukan tersebut, menjadikan khalayak mudah dikuasai sebagai ladang bisnis.
Dalam sistem kapitalisme, berbagai produk yang dihasilkan secara massal harus diupayakan
segera diserap oleh pasar. Penumpukan produk karena tak segera diserap pasar membawa dampak
merugikan bagi produsen. Sebab dalam sistem produksi, penciptaan produk membutuhkan modal
yang tidak sedikit. Dalam proses produksi berbagai produk tersebut membutuhkan ratujsan juta
hingga milyaran rupiah. Angka tersbut tidak saja dibutuhkan untuk membeli bahan baku, tapi juga
bagi proses produksi yang lain seperti pengolahan, pengemasan, distribusi, promosi, riset dan
pengendalian mutu, dan berbagai kegiatan yang lain. Rangkaian produksi tersebut juga
membutuhkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan pegawai
6
.
Keterlibatan kapital yang sangat besar tersebut jelas terlalu mahal bila dipertaruhkan. Sebab
semangat kapitalisme adalah menghindarkan diri dari kerugian dan mencari keuntungan sebesar-
besarnya. Oleh karen aitu, produk-produk yang telah dihasilkan harus diserap oleh pasar sesegera
mungkin. Lambannya produk yang diserap oleh pasar, berarti akan menimbulkan pula lambatnya
pengembalian modal produksi. Terlebih jika produk yang diiklankan gagal diserap oleh pasar, maka
akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bahkan meruntuhkan kapitalisme itu sendiri
(Noviani, 2003:11).
Dalam logika kapitalisme, untuk mendapatkan keuntungan dari barang yang diproduksi
secara massal, harus diimbangi dengan tingkat konsumsi yang sifatnya massal juga. Untuk
mencapai tingkat konsumsi massal tersebut, menurut Galbartaith, cara produksi kapitalisme perlu
menerapkan demand management (Noviani, 2003:11). artinya, ditengah masyarakat dibutuhkan
keinginan yang lebih besar untuk mengkonsumsi barang secara lebih banyak dari biasanya.
Iklan Mendorong Sikap Konsumerisme
Sebagaimana diketahui, konsumsi barang oleh konsumen secara normal mempunyai batas
tertentu. Tidak saja terbatas pada aspek pemakaian produk, namun juga terbatas pada kemampuan
daya beli dengan berbagai alasan. Untuk mengenyangkan perut yang kelaparan misalnya, seseorang
mungkin cukup mengkonsumsi 1 atau dua mie instant dalam satu porsinya. Mengkonsumsi lebih
dari jumlah tersebut perut tidak dapat lagi menampung. Kalau dipaksakan, perut malah akan
menjadi sakit. Namun dengan demand management, konsumen dibujuk untuk membeli lebih dari
biasanya, dengan alasan untuk stok persediaan di rumah, kesempatan mengikuti undian dengan
mengirimkan bungkus sebanyak-banyaknya, dan sebagainya.
Upaya untuk meningkatkan konsumsi secara massal melalui pubikasi media massa dalam
bentuk iklan. Iklan merupakan informasi yang memberikan berita yang up to date kepada
konsumen mengenai produk yang bertujuan menjaga tingkat produksi. Iklan pada dasarnya bersifat
membujuk pemirsa dengan berbagai iming-iming citraan yang ujung-ujungnya mendorong
munculnya hasrat untuk membeli.
Sedemikian pentingnya peran iklan, sehingga oleh Stuart Ewen disebut sebagai Captain
Industry, yang mengamankan bagian pasar dengan cara mengorganisir dan mengontrol selera dan
perilaku masyarakat. Dalam analisis William (1993), iklan merupakan komponen vital dalam
organisasi dan reproduksi kapital. Iklan adalah magis karena mampu mentransformasikan
komoditas kedalam penanda yang glamour dan penanda tersebut menghadirkan suatu imaginer.
Karena bersifat magis, iklan mampu menyihir konsumen untuk mengkonsumsi suatu produk
(Martadi, dalam Jurnal Deskomvis 2001). iklan merupakan perangkat ampuh untuk menciptakan
need, want, buy.
Melalui industri periklanan, dikembangkan cara-cara untuk menciptakan dan mendorong
konsumsi sebagai bagian dari gaya hidup dalam masyarakat. Iklan digunakan untuk menciptakan
kekurangan-kekurangan baru dalam diri konsumen sehingga tergerak untuk berusaha menutupinya
dengan mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Iklan merepresentasikan mimpi buruk sekaligus
menyenangkan. Iklan menciptakan hasrat dalam diri konsumen dan menawarkan produk sebagai
jawabannya. Iklan kemudian menggeser sikap tradisional seperti hemat, kedalam sikap hidup yang
hedonis (mengedepankan kesenangan duniawi) yang mengutamakan belanja. Iklan memberikan
rasionalisasi kepada konsumen untuk tidak sayang mengeluaran uang sebanyak-banyaknya. Untuk
menjalankan tugas tersebut, iklan telah dipikirkan sedemikian rupa sehingga menggunakan
pendekatan rasional psikologis dalam ilmu yang lebih modern. Iklan kemudian menggeser dari
captain of industry menjadi captain of consciusness, melalui citra yang dibangunnya
captain of conciusness karena iklan menumbuhkan kesadaran-kesadaran baru bahwa orang
membutuhkan produk-produk baru dengan merek tertentu. Dalam benak konsumen terbangun
kesadaran baru bahwa ia memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dipenuhi dengan
mengkonsumsi atau menggunakan produk tertentu.
Lihat saja trend kecantikan perempuan yang dikonstruksi melalui iklan saat ini. Perempuan
didorong untuk tumbuh kesadarannya bahwa ia tidak dikatakan cantik bila tidak memiliki tubuh
yang langsing, atau wajah yang putih bersih. Oleh karena itu ia perlu menggunakan produk-produk
kecantikan, kapsul pelangsing tubuh, menggunakan krim pembesar payudara maupun krim pemutih
wajah. Bila tubuh sudah langsing, payudara sudah indah, dan kulit putih, produsen lain mendikte
standar kecantikan perempuan dengan mengemukakan kekurangan-kekurangan baru yang
ditanamkan dibenak perempuan seolah mengatakan: “kondisi fisik yang anda miliki sekarang tidak
hanya cukup seperti itu !!! wajah tidak hanya putih, namun juga bersinar”. Bila sudah putih
bersinar, produk lain akan berkata: “wajah putih bersinar tidak cukup, ia perlu putih bersinar,
kenyal dan sehat”. Pendiktean yang dilakukan oleh produsen melalui iklan terjadi secara terus
menerus dengan mengemukakan “kekurangan-kekurangan baru” yang harus ditutupi atau diatasi
oleh perempuan dengan cara membeli produk yang diiklankan.
Mungkin uraian diatas membuat kita tersentak, bahwa selama ini ternyata iklan telah
mendikte kesadaran kita baik secara individu maupun kolektif. Iklan bahkan mendorong kita untuk
membeli produk yang mungkin sebenarnya tidak kita perlukan, atau mempersuasi untuk
mengkonsumsi produk secara berlebihan. Atau dengan kata lain, iklan memunculkan sikap
konsumerisme
8
pada diri kita.
Pengaruh-Pengaruh Iklan
Menurut Rendra (2005) bahwa pengaruh iklan sangat beragam, merambah berbagai bidang
kehidupan manusia mulai dari tingkat individu, keluarga hingga masyarakat. Rendra membagi
7 Ratna Noviani, Jalan Tengah Memahami Iklan (Yogyakarta, Pustaka Pelajar dan CCSS 2002)
8 RendraWidyatama, Pengantar Periklanan (Jakarta: Buana Pustaka Indonesia 2005), hal 35-41.
pengaruh tersebut menjadi 3 bagian yaitu:
1. Pengaruh Ekonomi
Diberbagai negara, iklan terbukti mampu memberikan keuntungan ekonomi yang sangat
besar bagi perorangan atau biro periklanan yang terlibat didalamnya. Dalam banyak catatan
sejarah bahkan menunjukkan bahwa mereka menjadi orang yang sangat kaya. Benyamin
Franklin merupakan satu dari sekian banyak kisah sukses pegiat iklan. Dia dikenal sebagai
penulis naskah iklan yang piawai, manajer perusahaan periklanan yang handal, salesman,
penerbit, serta editor surat kabar.
2. Pengaruh Psikologis
Dampak psikologis iklan sangat beragam, meliputi aspek kognitif, afektif, dan konotatif,
baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. Pengaruh psikologis yang terjadi di wilayah
kognitif dapat menumbuhkan perhatian khalayak terhadap sesuatu secara lebih tinggi
dibanding yang lain. Kita seringkali memberikan perhatian yang lebih besar kepada suatu
produk yang diiklankan secara lebih gencar dibanding produk lain. Namun sebaliknya, kita
tidak terlalu memberikan perhatian kepada produk yang tidak diiklankan secara gencar.
Fenomena tersebut dapat pula disimpulkan bahwa perhatian kita ikut ditentukan oleh iklan.
3. Pengaruh Sosial Budaya
Iklan secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi struktur pembangunan budaya
disuatu tempat pada kurun waktu tertentu. Dampak iklan yang meluas dan menjadi ikon di
masyarakat akhirnya terserap menjadi budaya oleh masyarakat itu. Misalnya iklan produk
kecantikan yang membujuk konsumen dengan tren kecantikan pada tahun tertentu
masyarakat terutama kaum wanita menjadikan trend tersebut sebagai gaya hidup. Jika
misalnya tidak mengikuti iklan tersbeut maka dianggap ketinggalan jaman, karena setiap
tahun berganti-ganti tren.
Kesimpulan
Selain pengaruh-pengaruh positif dari iklan yang harus ditingkatkan, –misalnya
pertumbuhan ekonomi– yang perlu kita waspadai adalah pengaruh-pengaruh negatif dari iklan
tersebut. Tentunya perlu dukungan semua pihak agar para penyelenggara periklanan tidak
seenaknya membuat iklan, apalagi iklan yang cenderung ke persaingan tidak sehat dan iklan yang
membodohi masyarakat.
Masyarakat yang akan menilai apakah sebuah iklan bagus atau tidak. Masyarakat sendiri
yang bertindak sebagai kontrol terhadap ikla yang beredar di semua media. Sungguh langkah yang
sangat bagus dengan dimunculkannya milist di internet yang berdiskusi da mengkritisi iklan-iklan
yang beredar. Hal itu merupakan suatu bentuk kepedulian masyarakat terhadap keberadaan iklan.
Peran pemerintah bisa diwujudkan dengan membuat regulasi tentang periklanan juga menjadi
kebutuhan yang wajib, agar jangan sampai iklan-iklan cenderung merusak masyarakat. Jika ada
iklan yang bermasalah maka pemerintah wajib untuk menindaklanjuti dengan koridor perundangan
yang sudah disahkan. Jangan sampai ada pihak-pihak yang merasa dirugikan bagik konsumen,
perusahaan, biro iklan maupun pihak lain yang terkait.
DAFTAR PUSTAKA
Frank Jefkins, 1997. Periklanan, Erlangga, Jakarta
http://ww.pppi.or.id/pariwara/statistik
Ratna Noviani, 2002. Jalan Tengah Memahami Iklan, Pustaka Pelajar dan CCSS, Yogyakarta.
Rendra Widyatama, 2005. Pengantar Periklanan, Buana Pustaka Indonesia, Jakarta.